Review Film Just Mercy, Perjuangan dalam Menegakkan Keadilan dan Menggugat Rasialisme

Wikipedia
Film Just Mercy merupakan salah satu film berdasarkan kisah nyata yang rilis pada tahun 2019. Film ini dibintangi para bintang yang sudah tak asing lagi, yaitu : Michael B. Jordan, Jamie Foxx, Brie Larson dan yang lainnya. Film ini menceritakan tentang seorang pengacara muda berkulit hitam yang berjuang untuk menegakkan keadilan bagi rasnya.
Film Just Mercy ini mendapatkan sambutan hangat pada saat ditayangkan selama 8 menit di auditorium Toronto International Film Festival pada tanggal 6 September 2019. Film ini mampu menyebabkan penonton mengeluarkan air mata dengan cara memperlihatkan ketidakadilan dalam sistem peradilan Amerika Serikat, terutama terhadap ras kulit hitam.
Film ini diarahi oleh Destin Daniel Cretton, berdasarkan kisah nyata seorang pengacara muda lulusan Harvard University bernama Bryan Stevenson (Michael B. Jordan) yang berjuang untuk membebaskan seorang warga kulit hitam bernama Walter McMillian yang biasa dipanggil Johnny D (Jamie Foxx) yang dituduh membunuh seorang gadis kulit putih bernama Ronda Morrison dan terancam hukuman mati tanpa proses peradilan yang jelas. Walter Mcmillian divonis hukuman mati pada tahun 1987.
Bryan Stevenson segera melihat berkas-berkas perkara yang berhubungan dengan Johnny D dan menemukan kejanggalan-kejanggalan. Bryan ragu terhadap dakwaan yang hanya berdasarkan keterangan satu saksi yang tak berdasar. Pernyataan yang diberikan oleh saksi berasal dari penjahat yang memiliki motif untuk berbohong. Yang menjadi saksinya adalah Ralph Myers (Tim Blake Nelson). Ralph ditekan dan dipaksa oleh pihak kepolisian untuk memberikan pernyataan palsu kepada Johnny D.
Bryan segera menyelidiki kasus ini dan dibantu oleh rekannya yang bernama Eva Ansley (Brie Larson). Bryan menemukan fakta di lapangan dan keterangan para saksi lainnya yang menunjukkan Johnny D tidak bersalah dan bukan pelaku pembunuhan Ronda Morrison. Bryan berjuang agar dilakukan sidang ulang untuk kasus Johnny D dan membujuk Ralph Myers agar menjadi saksi dan memberikan pernyataan yang benar pada sidang ulang tersebut. Tetapi sidang tersebut tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Johnny D tetap divonis hukuman mati karena saksi dari Ralph dianggap bias dan melakukan sumpah palsu. Tetapi hal itu tidak berakhir begitu saja. Bryan tetap berjuang untuk mendapatkan sidang ulang kembali dan langsung mengajukan kasus Johnny D ke Mahkamah Agung dengan menyertakan bukti-bukti kuat yang menyatakan tidak bersalahnya Johnny D dalam kasus pembunuhan Ronda Morrison. Akhirnya Mahkamah Agung menyetujui diadakannya sidang ulang pada kasus pembunuhan Ronda Morrison dan Johnny D dinyatakan tidak bersalah.
Sampai saat ini Bryan Stevenson masih berjuang menegakkan keadilan dan berusaha menerobos labirin sistem peradilan Amerika Serikat di bawah bayang-bayang rasialisme.
Diadaptasi dari buku karya Stevenson sendiri dengan kisah yang kuat dan mengharukan, film arahan Destin Daniel Cretton ini berhasil meraih berbagai penghargaan di ajang internasional. Saat menjelaskan detail kejanggalan dalam kasus Johnny D, Destin Daniel Cretton hanya menggunakan satu adegan, yaitu perbincangan dengan keluarga besar sang terpidana mati. Strategi ini membuat cerita yang rumit dapat menjadi ringan dan mudah dipahami oleh penonton. Strategi yang sama juga terlihat dalam cara Destin Daniel Cretton menjelaskan situasi politik di Amerika Serikat yang membuat para jaksa enggan membela Johnny D. Semua tergambarkan hanya dalam perbincangan telepon antara Bryan dan rekannya, Eva.
Bagi yang penasaran dengan film ini, langsung saja saksikan Just Mercy di platform legal HBO GO. Bagi yang sudah menyaksikan film ini, berikan komentar kalian dan tanggapan kalian mengenai film ini ya!
Editor :Fadmi Nanda